Peternakan 6 Oktober 2026

MAKSIMALISASI INSEMINASI BUATAN LEWAT SEMINAR ADVANCED EQUINE REPRODUCTION

JAKARTA — PP PORDASI menggelar seminar bertajuk Advanced Equine Reproduction di PORDASI HQ, JIEPP Pulomas, Jakarta Timur, pada 29 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan standar penerapan teknologi reproduksi, khususnya inseminasi buatan, untuk mendukung pengembangan breeding serta meningkatkan populasi kuda berkualitas di Indonesia.

Hadir sebagai narasumber drh. Aulia Mifthakur Rahman dan drh. Widyastuti Pratiwi Suryadi. Keduanya sebelumnya telah mengikuti pelatihan Artificial Insemination Scholarships for Practicing Equine Veterinarians yang diselenggarakan di La Jumenterie du Pin, Prancis, sebagai tindak lanjut kerja sama strategis antara PORDASI dan Federasi Berkuda Prancis.

Dalam seminar tersebut, kedua narasumber membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Materi yang disampaikan berfokus pada berbagai aspek yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan keberhasilan inseminasi buatan sehingga hasil breeding dapat memenuhi ekspektasi.

DARI PERSIAPAN HINGGA MENENTUKAN KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN

Pemaparan materi dimulai dari tahap persiapan hingga berbagai teknik dalam melakukan proses inseminasi buatan. Sejumlah poin penting yang dapat menentukan hasil akhir turut dibahas, termasuk bagaimana menerapkan manajemen breeding yang baik dan mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin terjadi di lapangan.

Menurut drh. Widyastuti Pratiwi Suryadi, penerapan manajemen breeding menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan keberhasilan program inseminasi buatan.

“Yang utama adalah bagaimana kita menerapkan manajemen breeding untuk mengantisipasi dan mengatasi segala permasalahan di lapangan,” ujar drh. Widyastuti.

Ia menilai Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup besar untuk mengembangkan inseminasi buatan pada kuda. Namun, potensi tersebut harus didukung dengan peningkatan pengetahuan serta penerapan standar yang tepat.

“Kita tidak kalah dengan negara-negara lain, dan Indonesia memiliki banyak tenaga potensial yang dapat melakukan inseminasi buatan. Namun, hal tersebut harus didukung dengan pengetahuan yang lebih komprehensif dan berstandar agar hasilnya dapat lebih maksimal,” sambung drh. Widyastuti.

KEDISIPLINAN DALAM PENERAPAN STANDAR

Selain peningkatan pengetahuan, drh. Widyastuti menekankan bahwa kedisiplinan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hasil breeding melalui inseminasi buatan.

Menurutnya, kedisiplinan dalam menjalankan setiap tahapan sesuai standar akan sangat membantu untuk memperoleh hasil yang berkualitas dan sesuai dengan target yang diharapkan. Penerapan prosedur secara konsisten juga menjadi bagian penting dalam mengurangi berbagai risiko yang dapat memengaruhi keberhasilan proses reproduksi.

KUALITAS PEJANTAN DAN PENGELOLAAN SPERMA

Sementara itu, drh. Aulia Mifthakur Rahman menyoroti pentingnya tahap persiapan, mulai dari pemilihan dan persiapan pejantan hingga pengelolaan sperma yang akan digunakan dalam proses inseminasi.

“Kami menekankan dalam hal persiapan, seperti bagaimana mempersiapkan pejantan yang baik agar dapat memiliki sperma yang berkualitas untuk diinseminasikan. Dalam pengelolaan sperma, kita juga harus memperhatikan penyesuaian suhu dengan iklim yang ada di Indonesia dengan tujuan agar sperma tetap berada dalam kondisi yang baik,” papar drh. Aulia.

Perbedaan kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengaplikasikan pengetahuan dan teknologi reproduksi yang diperoleh dari luar negeri. Dengan demikian, penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi para praktisi di Indonesia.

KOLABORASI UNTUK MENGEMBANGKAN BREEDING CENTER

Pengembangan inseminasi buatan juga membutuhkan kolaborasi antarpelaku breeding di berbagai daerah. Menurut drh. Aulia, keberadaan sejumlah proyek percontohan breeding center di Indonesia dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sekaligus populasi kuda nasional.

“Indonesia memiliki beberapa proyek percontohan breeding center di sejumlah daerah yang dapat terus dikembangkan. Salah satunya adalah dengan saling berkolaborasi antarpelaku breeding inseminasi buatan di beberapa daerah agar kegiatan ini dapat terus berjalan,” sambung drh. Aulia.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpelaku breeding, sekaligus mendorong penerapan standar yang semakin baik dan konsisten di berbagai daerah.

Menurut drh. Aulia, kegiatan breeding melalui inseminasi buatan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan populasi kuda berkualitas sehingga kebutuhan kuda di dalam negeri dapat semakin terpenuhi.

Melalui seminar Advanced Equine Reproduction, PP PORDASI juga mendorong agar pengetahuan yang diperoleh melalui program pelatihan dan kerja sama internasional dapat ditransfer kepada para praktisi di Indonesia. Dengan peningkatan kompetensi, penerapan standar, kedisiplinan, serta kolaborasi antarpelaku breeding, inseminasi buatan diharapkan dapat semakin optimal dalam mendukung pengembangan breeding dan peningkatan kualitas kuda Indonesia.

Bagikan